Tips Buka Puasa Agar Gula Darah Tidak Naik Drastis
Bulan puasa membawa banyak perubahan dalam pola makan masyarakat. Namun, beberapa kebiasaan buka puasa dapat meningkatkan risiko judi mix parlay lonjakan gula darah, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang rentan terhadap gangguan metabolisme. Baru-baru ini, Menteri Kesehatan (Menkes) mengingatkan pentingnya memperhatikan jenis makanan dan cara konsumsi saat berbuka.
Pilihan Makanan Manis Saat Buka Puasa
Menkes menekankan bahwa konsumsi slot minimal deposit 10rb makanan dan minuman tinggi gula, seperti kolak, es campur, dan minuman bersoda, kerap menjadi pemicu lonjakan gula darah. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi gula secara langsung setelah seharian berpuasa dapat membuat tubuh kewalahan memproses glukosa.
“Penting untuk membatasi asupan gula tinggi, bahkan pada saat berbuka puasa. Pilih makanan yang seimbang agar kadar gula darah tetap stabil,” jelas Menkes.
Menurut ahli gizi, makanan manis memang memberi energi cepat, tetapi efeknya bersifat sementara. Akibatnya, kadar gula darah meningkat drastis, diikuti penurunan energi yang cepat pula. Selain itu, lonjakan gula darah berulang dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang, seperti meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.
Efek Makan Terlalu Cepat
Selain jenis makanan, cara makan juga menentukan respons gula darah. Menkes memperingatkan bahwa makan terlalu cepat saat berbuka dapat memicu lonjakan gula darah secara mendadak. Ketika tubuh tidak siap menerima asupan besar sekaligus, pankreas bekerja ekstra untuk menghasilkan insulin, sehingga menimbulkan stres metabolik.
Ahli kesehatan merekomendasikan untuk memulai berbuka dengan makanan ringan dan minuman hangat, seperti kurma dan air putih. Setelah itu, tubuh dapat menerima asupan lebih berat secara bertahap. Cara ini membantu menjaga gula darah tetap stabil dan mencegah gejala seperti pusing, lelah berlebihan, atau perasaan lapar berlebihan setelah makan.
Perhatikan Porsi dan Frekuensi Makan
Selain memilih makanan rendah gula dan makan perlahan, Menkes menekankan pentingnya mengatur porsi makan saat sahur dan berbuka. Mengonsumsi makanan dalam porsi besar sekaligus akan meningkatkan risiko lonjakan gula darah. Sebaliknya, membagi asupan dalam beberapa porsi kecil membantu tubuh memproses glukosa lebih efektif.
Porsi seimbang yang terdiri dari karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta serat dari sayur dan buah disarankan. Karbohidrat kompleks, misalnya nasi merah atau roti gandum, melepaskan glukosa lebih lambat sehingga kadar gula darah tidak naik drastis.
Hindari Minuman Bersoda dan Berenergi
Menkes juga mengingatkan agar masyarakat mengurangi konsumsi minuman bersoda atau berenergi saat berbuka. Minuman ini mengandung gula tinggi yang langsung masuk ke aliran darah. Sebagai alternatif, air putih atau teh hangat tanpa gula lebih aman untuk menjaga kestabilan gula darah.
Selain itu, olahraga ringan setelah berbuka, seperti berjalan kaki 10–15 menit, dapat membantu tubuh memanfaatkan glukosa sebagai energi dan menurunkan risiko lonjakan gula darah.
Kesimpulan
Momen berbuka puasa harus menjadi waktu yang sehat dan menyenangkan, bukan risiko kesehatan. Dengan memilih makanan rendah gula, makan secara perlahan, mengatur porsi, serta menghindari minuman manis berlebihan, lonjakan gula darah dapat dicegah. Menkes menegaskan bahwa kesadaran pola makan saat puasa tidak hanya penting untuk penderita diabetes, tetapi juga bagi semua orang yang ingin menjaga kesehatan jangka panjang.
Memahami hubungan antara kebiasaan buka puasa dan gula darah membantu masyarakat mengambil langkah preventif. Akhirnya, puasa tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga sarana menjaga kesehatan tubuh secara optimal.